Kesatuan Baret Merah yang dibentuk pada 16 April 1952 sudah kesekian kalinya berganti-ganti nama. Diantaranya nama legendaris RPKAD atau Resimen Para Komando Angkatan Darat hingga Kopassandha alias Komando Pasukan Sandhi Yudha. Almarhum papa saya baru bertugas di Baret Merah sewaktu namanya masih Puspassus AD atau Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat sebelum berganti menjadi Kopassandha.

Pada periode 1980an, guna memenuhi hakekat ancaman dan gangguan serta tantangan yang ada, kesatuan ini memiliki Grup Parako atau Para Komando dan Grup Sandi Yudha alias Sandha. Dalam sebuah Grup Parako saat itu bermaterikan 3 (tiga) Detasemen Tempur atau Denpur. 1 (satu) Denpur terdiri dari 3 Kompi dan 1 Kompi terdiri dari 3 Peleton (Denpur 12~ Kompi 111, Kompi 112 dan Kompi 113). Sedangkan di Grup Sandha atau Sandhi Yudha terdiri dari Karsa Yudha dibawahnya menggunakan istilah Prayudha. Saat ini di Kopassus menggunakan istilah Batalyon, contoh Grup 1 Batalyon 11,12 atau Grup 2 berarti Batalyon 21,22 dan begitu seterusnya kecuali Satuan Penanggulangan Teror atau Gultor. Meskipun sama-sama memiliki kualifikasi Komando namun tugas Grup Parako dan Grup Sandha berbeda satu dengan lainnya. Satu hal yang pasti seorang anggota Baret Merah mesti melewati masa tugasnya beberapa tahun berikut memiliki riwayat penugasan di Grup Parako lebih dahulu baru kemudian anggota tersebut dapat bergabung di Grup Sandha.

Guna mengetahui secara sederhana perbedaan antara Grup Parako dengan Grup Sandha, kita dapat mengambil contoh saat ”infiltrasi” yang dilakukan pasukan ini ke Timor Portugis di tahun 1975. Sebelum digelar Operasi Gabungan besar-besaran dari darat laut dan udara untuk merebut Kota Dili, Minggu 7 Desember 1975, Kopassandha telah mengirimkan setidaknya 3 Team Khusus yang dipersiapkan dalam rangka perebutan Dili. Kesuksesan yang diperoleh Team Susi Umi dan Tuti tak diikuti dengan mulus oleh operasi selanjutnya. Menurut almarhum Jenderal Purnawirawan Benny Moerdani dalam bukunya, operasi gabungan ini masih memiliki banyak kelemahan. Hal itu dikarenakan oleh ketiadaan pengalaman dari TNI untuk melaksanakan Operasi Gabungan sebelumnya. Konsekuensi ketidaksiapan pasukan mengakibatkan banyaknya pasukan TNI yang gugur termasuk prajurit dengan pangkat Mayor dan Kapten. Operasi gabungan Lintas Udara dengan inti kekuatan dari Grup 1 Kopassandha dan Batalyon 507 Kostrad Jawa Timur ini memakan korban cukup besar

Sifat dari operasi Sandha yang dilakukan itu sendiri juga memiliki kekhususan dengan tingkat kerahasiaan yang tinggi dan tentunya sasaran yang diberikan memiliki dampak buat operasi selanjutnya.

Berbicara mengenai Operasi Seroja di Timor Portugis, seperti diketik diatas bahwa jauh sebelum operasi itu dimulai, Kopassandha ketika itu setidaknya telah menurunkan 3 Team dari Grup Sandha yakni : Team Susi Team Umi dan Team Tuti. Team Susi yang dikomandani oleh Kapten Yunus Yosfiah ini berganggotakan 100 orang. Mereka mayoritas bertugas di Grup 4 Kopassandha. Para prajurit ini tergabung dalam 4 Prayudha dengan masing-masing 20 anggota dipimpin seorang perwira belum termasuk anggota lainnya pada tingkat Mako. Ke-100 orang anggota Kopassandha ini mulai mempersiapkan diri sekitar Oktober 1974. Team Susi yang dalam masa persiapan masuk pada Karsa Yudha “Siaga“ akhirnya diberangkatkan ke daerah operasi mulai 29 April 1975 hingga 9 Nopember 1975. Karsa Yudha yang berangkat tugas operasi Pra Seroja ini tergabung dalam gugus tugas Nanggala 2 dimana sebelumnya selain latihan militer diberikan juga buat mereka pelajaran Bahasa dan Budaya Timor Portugis.

Namanya juga pasukan Sandha, ke-100 anggota Nanggala 2 ini masing-masing memiliki nama samaran sendiri-sendiri. Ambil contoh almarhum papa saya tempo itu diberikan nama Yosep Fernandez atau biasa ditulis Ama Yosep pada tiap surat yang dikirim papa ke mama di Cijantung. Dalam tugas penyamaran beliau “mengaku“ bekerja sebagai Mandor Jalan sehingga banyak sekali catatan berupa tulisan tangan yang ditinggalkan hingga kini masih tersimpan.

Team Nanggala 2 ini sepanjang penugasan di Timor Portugis dikenal juga sebagai The Blue Jeans Soldiers. Alasan kenapa mereka dijuluki seperti itu tak lain dan tak bukan disebabkan oleh pakaian yang dikenakan prajurit Komando ini semua dari bahan blue jins. Tak satupun anggota Team Susi ini menggunakan atribut pasukan Baret Merah. Selama di medan perang mereka menggunakan pakaian sipil dengan seledang kain Timor menutupi tubuhnya. Kebanyakan dari prajurit itu juga mengenakan Topi yang memiliki kekhasan Timor.

Setiap Prajurit Kopassandha yang tergabung dalam Team Susi pada waktu itu ”sengaja” menggunakan senjata non organik TNI yaitu AK 47. Dalam berbagai pertempuran sepanjang tugas operasi di Timor Portugis selain AK 47 anggota Nanggola 2 juga menggunakan RL atau Rocket Launcher. Penggunaan AK 47 adalah untuk menyamarkan tugas mereka selaku Sukarelawan dalam rangka membantu Partai Apodeti, UDT, KOTA dan Partai Trabalista yang menginginkan rakyat Timor Portugis bergabung dengan Indonesia. Keempat partai pendukung integrasi Timor Timur dengan Indonesia kemudian membuat sebuah aksi disebut Deklarasi Balibo untuk menandingi pernyataan kemerdekaan yang secara sepihak dicetuskan oleh Fretilin.

Keinginan Rakyat Timor Portugis untuk bergabung dengan Indonesia dilandasi oleh kesengsaraan dan kekejaman penjajahan Portugis melalui Fretilin (Frente Revolucionaria de Timor Lesta Independence) yang saat itu sedang berkuasa.

Para Prajurit TNI dari kesatuan Baret Merah sewaktu melakukan gerakan di daerah operasi memiliki tugas untuk mempertahankan kantong-kantong gerilya yang masih dikuasai Apodeti sehingga secara politik Apodeti masih memiliki suara dalam forum internasional di PBB. Dan perjuangan para sukarelawan pro integrasi menjadi bukti kuat bagi Timor Portugis untuk bergabung dengan Indonesia melalui Deklarasi Balibo yang telah disepakati oleh 4 tokoh utama Partai Apodeti, UDT, Kota dan Trabalista.

The Blue Jeans Soldiers berintikan sepasukan prajurit Baret Merah setidaknya pernah membantu rakyat Timor Timur pada masanya. Apapun dan bagaimanapun kini situasinya The Blue Jeans Soldiers namamu senatiasa tercetak dengan tinta emas. Peran mereka senantiasa melekat dihati. Kaulah pahlawan Seroja sesungguhnya.

sumber :http://oomwil.wordpress.com