Sewaktu masih tinggal di Kompleks Kopassus Cijantung banyak peristiwa yang masih terekam dalam pikiran ini. Masa kecil saya lalui dengan menyaksikan, mendengar kisah-kisah heroik prajurit pilihan. Entah berapa kali saya telah menyaksikan latihan-latihan kemiliteran yang di lakukan oleh pasukan Baret Merah. Kadang di Lapangan Merah atau Lapangan Atang Sutresna (kini sudah menjadi Stadion Sepak Bola) kerap juga latihan dilaksanakan di pinggiran Sungai Ciliwung. Pokoknya latihan dan latihan saja yang dilihat, di dengar oleh penghuni kompleks. Jadi rasanya bukan sebuah hal yang aneh apabila melihat para prajurit melakukan latihan di dalam perumahan. Akibatnya pada usia saya belum tamat Sekolah Dasar berbagai istilah militer pernah mampir di telinga. Ada istilah Mobud alias Mobilisasi Udara, Konsinyir, Rappeling, Apel, PDU, PDL, PDH, Terjun Statik, Kaporlap, Siaga 1, Free Fall, PH atau Perang Hutan, Suslapa dan masih banyak lagi. Jenis senjata yang pernah dikenal seperti Pistol FN 45, FN 46, senapan serbu seperti AK 47, M16 dan FNC buatan Belgia yang diuji coba sebelum “disulap” menjadi Senapan Serbu alias SS 1 ciptaan Pindad yang dipakai TNI saat ini.

Selama menjadi anak kolong tak jarang saya melihat Bendera di Markas Komando dan Mako Grup bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang. Itu tandanya ada prajurit yang gugur dalam medan tugas. Masa perjuangan merebut dan mempertahankan Timor Timur sekitar tahun 1976-1981 itu adalah masa dimana paling sering Bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang di Kesatrian Ahmad Yani.

Belum lagi saya lupakan masa dimana untuk mengukur tingkat kesiap siagaan pasukan Baret Merah maka diadakanlah sebuah Latihan yang biasa disebut dalam kemiliteran namanya Stealing. Pendadakan tanpa mengenal waktu baik pagi sore atau malam senatiasa dilakukan. Salah satu tujuannya adalah untuk mengukur berapa lama waktu kesiagaan yang dibutuhkan oleh prajurit Baret Merah andalan Bangsa jika akan diberangkatkan ke medan tugas. Kecepatan waktu berkumpul dengan Perlengkapan Perorangan Lapangan yang lengkap akan dijadikan tolok ukur manakala panggilan tugas dari Panglima diberikan.

Provoost dengan sepeda motor warna putih berkeliling di dalam kompleks Cijantung. Sirene dengan keras berbunyi mengiringi motor provoost yang melaju kencang. Lampu-lampu di padamkan menambah kesan suasana genting sedang berlangsung. Di tengah kegelapan melanda samar-samar terlihat para prajurit meninggalkan kediamannya dengan pakaian dinas lengkap. Tak ketinggalan ransel warna hijau dipunggung Tak berselang lama raungan sirene pun berhenti. Prajurit Kopassus sudah meninggalkan rumah menuju titik kumpul yang sudah ditetapkan sebelumnya. Itulah kehidupan prajurit andalan bangsa dari kaca mata saya sebagai salah seorang anak kolong Baret Merah. sumber : http://oomwil.wordpress.com