NAMA Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya sedang naik daun. Jenderal bintang dua asal Banjar Munggu, Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, ini kini memikul dua jabatan prestisius. Selain masih memangku tugas komandan jenderal Kopasus, anak kedua dari lima bersaudara kandung ini menjabat pangdam IX/Udayana.

“Saya anak purnawirawan polisi. Ibu saya dulu jualan be (ikan) pindang di Pasar Kreneng,” ujar putra asal Bali kedua yang menjabat pucuk pimpinan di lingkungan Kodam IX/Udayana setelah I Gusti Ngurah Rai dulu itu.
Potret singkat keluarganya itu diungkapkan Wisnu Bawa Tenaya dalam acara antar dan sambut pangdam di Aula Makodam IX/Udayana pekan lalu. Pejabat lama, Mayjen TNI Leonard, dilepas menduduki jabatan baru di badan intelijen negara di Jakarta, Wisnu Bawa Tenaya disambut sebagai petinggi militer baru di wilayah tugas Kodam yang meliputi Bali, NTB, dan NTT itu. Sejumlah pejabat sipil, TNI, dan polda hadir dalam kesempatan tersebut. Selain Wagub A.A. Ngurah Puspayoga, tampak Ketua DPRD Bali Cok Ratmadi, Kapolda Bali Irjen Pol. Gunawan, Wakapolda Bali Brigjen Ketut Untung Ana Yoga, Bupati Badung A.A. Gde Agung, dan Wawali Kota Denpasar Djayanegara.

JUALAN
BE PINDANG
Wisnu lahir dari keluarga sederhana dari Desa Gulingan, Mengwi. Ayahnya, Mayor (Purn) I Made Dana (80), dulu sempat bertugas sebagai anggota DPRD Badung era 1970-an. Purnawirawan polisi ini lalu kembali ke barak polri. Made Dana mengakhiri masa dinasnya saat bertugas di Polda Bali.
Ibu kandung Wisnu, Ni Made Nyableg (78), berasal dari banjar adat tetangga ayahnya. Dari perkawinan Made Dana dan Made Nyableg lahir lima buah hati. Anak sulung, Wisnu Bawa Temaja, kini menjabat Irwilkab Kabupaten Badung. Wisnu Bawa Tenaya lahir sebagai anak kedua. Putra ketiga, Wisnu Bawa Tanumejaya, sekarang menjadi pengusaha di Jakarta. Dosen STP Bali Dr. Wisnu Bawa Tarunajaya, S.E., M.M. merupakan anak keempat. Putri bontot, Helinawati, saat ini menduduki posisi sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Badung.
Banyak kenangan manis masa muda di Bali yang masih terekam dalam benak Wisnu Bawa Tenaya, putra kedua pasutri Made Dana dan Made Nyableg ini. Ada salah satu kenangan yang diungkapkan sebelum ia menjadi tentara. Dulu dirinya dan kakak sulungnya, Wisnu Bawa Temaja, ikut ibu kandung mereka berdagang ikan pindang di Pasar Kreneng, Denpasar.
Ihwalnya, Made Dana memboyong istri dan anaknya ke Denpasar. Mereka bertempat tinggal di Jalan Nangka. Penghasilan Made Dana sebagai polisi saat itu tak cukup untuk membiayai semua keperluan keluarganya. “Ibu kami lalu jualan be pindang di Pasar Kreneng,” ungkap Wisnu Tarunajaya, adik keempat Wisnu Bawa Tenaya.
Wisnu Bawa Temaja dan Wisnu Bawa Tenaya memasuki SMP.  Kakak beradik ini bertugas ikut ibunya berjualan be pindang di pasar tradisional tersebut. Tiap pagi, pukul 04.00, keduanya sudah harus terjaga dari tidur lelap. “Saat anak-anak lain masih tidur nyenyak, kedua kakak saya ini sudah bangun. Mereka naik sepeda dayung membawa masing-masing empat kaleng berisi ikan pindang ke pasar,” ungkap Wisnu Tarunajaya yang belum lama ini sempat dijagokan memimpin STP Bali itu.
Habis mengantar be pindang untuk dijual sang ibu, kakak beradik ini kembali ke rumah. Bersama ketiga adiknya, mereka berkumpul di ruang keluarga.  “Ayah kami saat itu ikut nimbrung di tengah anak-anaknya. Beliau bisanya memancing kami berdiskusi. Biasanya ada saja masalah yang disodorkan Ayah waktu itu. Diskusi selalu berjalan seru. Kami baru bubaran menjelang jam berangkat sekolah. Ini berlangsung hampir tiap pagi,” ungkap Wisnu Tarunajaya.
Ibunya pulang berdagang sekitar pukul 15.00. Biasanya kelima buah hati Made Nyableg sudah menanti kedatangan sang ibu di teras rumah. “Ibu biasanya membawa oleh-oleh untuk anak-anaknya. Kami sudah tahu kebiasaan Ibu seperti itu. Makanya, tiap Ibu akan tiba di rumah, kami sudah siap-siap berebutan menyambutnya di halaman rumah,” kenangnya.

MASUK AKMIL
Disiplin ditegakkan Made Dana di rumahnya. Jika ada kegiatan di luar rumah, anak-anak harus melaporkan ke orangtua mereka. “Begitu juga jika menginap di rumah keluarga. Orangtua harus diberi tahu. Kami selalu patuh pada aturan disiplin waktu yang diterapkan Ayah. Sebagai polisi, beliau punya wibawa di keluarga. Makanya, kami segan berbuat macam-macam. Padahal, jika anaknya salah, Ayah tak pernah main pukul,” sambungnya.
Tetapi, semua anak Made Dana tidak hanya diajari menjadi anak rumahan. Mereka juga didorong bergaul dengan lingkungan sosialnya. “Jika malam Minggu, biasanya kami berlima kumpul-kumpul di teras rumah. Ayah biasanya menghampiri, lalu memberi sangu. Kami disuruh bergaul ke luar rumah. Ada yang disuruh ke banjar, ke komunitas karang taruna, dan kelompok remaja lain. Kami baru sadar belakangan, ini cara ayah kami mendidik kami belajar berorganisasi. Buktinya, kami semua pernah menjadi aktivis organisasi semasa kuliah maupun saat bekerja,” lanjut Wisnu Tarunajaya.
Saat tamat SMA Swastiastu Denpasar (sekarang SMA St. Yoseph), kakaknya, Wisnu Bawa Tenaya, memilih ikut mimpi ayahnya. “Ayah kami ingin ada salah satu anaknya masuk ABRI zaman itu,” tambahnya.
Setamat SMA, Wisnu Bawa Tenaya lolos tes pendidikan Akademi Militer di Magelang. Tamat pendidikan perwira tahun 1981. Anak kolong ini akhirnya bisa menebus mimpi ayahnya.
Karier perwira tinggi TNI ini terbilang berjalan mulus. Sebelum menjabat danjen Kopasus dan pangdam, jenderal yang gemar membaca ini pernah menduduki posisi Danrem 121 Pontianak, Kalbar. Dia lalu naik jabatan sebagai irjen Kostrad di Jakarta. Jabatan berikutnya, Wadanjen Kopasus di Cijantung dengan pangkat satu bintang. Wisnu lalu dipromosikan menjadi Kasdam IV Mulawarman, Kalbar. Dari sini, dia menjabat komandan Puspenif di Bandung. Poisisi Danjen Kopasus kemudian dipikulnya hingga kini, sambil merangkap jabatan Pangdam IX/Udayana.
Ayah dua anak, Wicitra Wira Swadidaya dan Wiwik Wike Widiari, ini memperistri putri bangsawan dari Puri Ubud, Cok Oka Istri Darmawati. Tamatan FE Unud ini dulu dikenal sosok mahasiswi yang kalem, santun, dan pendiam. “Kami teman belajar kelompok semasa kuliah di FE Unud. Biasanya saat belajar makan rujak bareng,” kenang sahabat karib Cok Oka Istri Darmawati semasa kuliah, Dr. Ni Nyoman Kerti Yasa, M.S. yang kini menjadi pengajar di almamaternya itu. —sam

sumber : http://www.cybertokoh.com