JAKARTA, KOMPAS.com — Nicolas Sandi (24), anggota TNI yang menyelamatkan Is (31) dari percobaan perampokan dan pemerkosaan di angkot, adalah anggota Satuan 81 Penanggulangan Teror (Sat-81 Gultor) Kopassus berpangkat sersan dua. Bujangan anggota satuan antiteror itu saat kejadian sedang cuti.

“Ya, benar, ia anggota kami dari Satuan 81,” kata Letnan Kolonel (Inf) Munir, pejabat Penerangan Kopassus, Selasa (24/7/2012) pagi.

Menurut Munir, ia belum menerima laporan detail mengenai keterlibatan anggota Kopassus itu dalam menolong korban kejahatan. “Yang pasti, ia anggota Kopassus yang baru keluar izin cuti tahunannya,” katanya.

Wadansat 81 Kopassus Letnan Kolonel (Inf) Taufiq Sobri yang dihubungi terpisah juga membenarkan bahwa Serda Nicholas Sandi adalah anggotanya.

“Yang bersangkutan sudah diizinkan cuti dan sedang mengurus surat-surat jalan ke Papua. Dia putra Papua dan mendapat cuti tahunan untuk menengok orangtuanya di sana,” tuturnya.

Ia menambahkan, tentunya segala tindakan anggotanya akan dicatat dalam buku riwayat kariernya. “Kalau tindakan yang salah saja dicatat, tentunya yang baik pun akan dicatat. Sekecil apa pun,” katanya ketika ditanya tentang bentuk apresiasi apa yang akan diberikan satuannya kepada Serda Nicholas, yang sigap membantu warga terhindar dari kejahatan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Is (31), seorang karyawati warga Johar Baru, Jakarta Pusat, luput dari upaya perampokan dan pemerkosaan di dalam angkutan kota (angkot), Senin (23/7/2012) tengah malam. Empat pelaku ditangkap berikut kendaraannya.

Tadi malam, Is menumpang angkot C-01 bernomor polisi B 1106 VTX jurusan Cileduk-Senen dari Senen, sekitar pukul 23.00. Saat itu, Is baru pulang dari tempat kerjanya.

Saat naik ke angkot, selain sopir, sudah ada tiga penumpang, yang salah seorang kemudian diketahui bernama Ari Anggara. Setelah beberapa saat angkot melaju, tiba-tiba lampu dalam kabin padam. Bersamaan dengan itu, Ari dan dua temannya menyergap Is.

Salah seorang mencekik leher Is dan yang lain menggerayangi. Is pun meronta dan berusaha berteriak. Teriakan Is didengar Nicolas Sandi, seorang anggota TNI yang kendaraannya beriringan. Melihat ada kejanggalan, Nicolas pun mengejar angkot tersebut.

Mengetahui kendaraannya dikejar, para pelaku mendorong Is keluar dari angkot di depan Gedung Mahkamah Agung, Jalan Medan Merdeka Utara.

Angkot tersebut berhasil dihentikan dan para pelaku dibekuk oleh Nicolas.