Latest Entries »

Berdasarkan Surat Perintah Nomor Prin : 033/12/1971 yang ditanda tangani oleh Kolonel Inf A. Kodim selaku Komandan Kesatrian Ahmad Yani Cijantung maka terhitung mulai 9 Desember 1971 almarhum papa ditunjuk menjadi Ketua RT 04 RW 03 Kelurahan Baru menggantikan Peltu O. Suprijatna. Melalui surat itu pula ditunjuk Serda M. Djanuni – Ba Hub Denma Kopassus menjabat sebagai wakil RT.04/RW.03. Surat Perintah itu adalah pengangkatan dari Kesatuan. Sedangkan pengesahan dari Pemerintahan baru keluar setelah surat dari Lurah Baru Pemerintah Daerah Chusus Ibukota Djakarta melalui Tjamat Pasar Rebo, Moh. Amin SH ditanda tangani. Dalam surat penunjukkan itu diketik bahwa terhitung mulai 19 Oktober 1972 Pemerintah Tingkat Ketjamatan mengesahkan papa untuk menjabat selaku Ketua RT. 004 /RW.03 Kelurahan Baru Ketjamatan Pasar Rebo.

Selama almarhum papa menjabat sebagai Ketua RT banyak kegiatan dilakukan. Beliau pernah mengikuti seminar pengenalan Narkotika yang diselenggarakan di kantor walikota. Kegiatan yang dibuat diantaranya adalah Kerja Bakti, Pembinaan berupa Pengajian dan masih banyak lagi. Tujuannya adalah merukunkan warga RT. 004 untuk kehidupan bertetangga dan tak lupa guna menunjang tugas pokok sebagai warga ABRI kata dan perbuatan adalah satu dalam menghayati Pancasila dan Sapta Marga secara utuh. Seingat saya pengajian diadakan pada setiap hari Kamis malam Jumat. Acara itu berlangsung secara giliran di rumah warga. Dalam melangsungkan acara biasanya tuan rumah akan menggunakan tikar sebagai alas sebagai pengganti kursi.Sebuah prestasi yang sempat dicatat pada waktu almarhum papa menjabat sebagai Ketua RT. 004/RW. 03 adalah terpilihnya lingkungan warga RT. 004 menjadi lingkungan terbersih di seantero RW.03. Juara kebersihan itu istilah yang saya ingat. Dalam memberikan contoh teladan bagi warganya papa senantiasa tak ragu menurunkan kakak laki-laki untuk membersihkan selokan atau korve di samping dan depan rumah. Istilah Korve atau Kerja Bakti pertama kali saya kenal ya melalui kegiatan yang sering dilakukan di lingkungan ini. Setiap perayaan HUT Proklamasi seluruh trotoar di depan rumah warga kompleks di sepanjang Jalan Sungai Luis hingga Jalan Lebos yang berbatasan dengan RT lain akan di kapuri warna Putih. Alhasil warga memperoleh penghargaan berupa Piala berwarna Perak yang dikalungi pita kecil merah putih menjadi kebanggaan bagi warga RT. 004. Ibu-ibu serta anak-anak tampak gembira mendengar hasil perolehan kerja bakti mereka menghasilkan kemenangan. Peristiwa keberhasilan itu dapat dilihat melalui foto di depan rumah Wakil RT. 0043/RW. 03 persis di pertigaan Jalan Sungai Luis dan Jalan Lebos (saat ini nama jalan sudah berganti). Tampak pula sebuah papan tulis warna hitam yang digunakan untuk memberitahuan beberapa pengumuman kepada warga.

Sebuah peran almarhum papa lainnya sebagai Ketua RT yang masih terekam adalah ketika 2 buah keluarga yang rumah tinggalnya bersebelahan kerap berselisih paham satu sama lainnya. Kehadiran almarhum senantiasa berusaha untuk mendamaikan kedua keluarga yang sama-sama dari Maluku itu. Benih permusuhan sepertinya tetap hinggap diantara mereka hingga kepindahan kami ke Serang Banten pada tahun 1981.

Keberhasilan almarhum papa menjadi Ketua RT rupanya membawanya terpilih menjadi Ketua Rukun Warga 03. Sebuah papan warna putih bertuliskan hitam dipasang disebelah kiri rumah kami persis di dekat selokan kamar bagian depan. Sayangnya saya belum menemukan bukti otentik penunjukkannya sebagai Ketua RW.

Ceritera mengenai Rukun Tetangga dan Rukun Warga selama di Cijantung berakhir ketika Agustus 1981 terjadi pergeseran pasukan dari Cijantung ke Serang Banten dan Karianggo Ujung Pandang.

Ditulis dalam Putra Cijantung

SUMBER :http://oomwil.wordpress.com

Stealing

Sewaktu masih tinggal di Kompleks Kopassus Cijantung banyak peristiwa yang masih terekam dalam pikiran ini. Masa kecil saya lalui dengan menyaksikan, mendengar kisah-kisah heroik prajurit pilihan. Entah berapa kali saya telah menyaksikan latihan-latihan kemiliteran yang di lakukan oleh pasukan Baret Merah. Kadang di Lapangan Merah atau Lapangan Atang Sutresna (kini sudah menjadi Stadion Sepak Bola) kerap juga latihan dilaksanakan di pinggiran Sungai Ciliwung. Pokoknya latihan dan latihan saja yang dilihat, di dengar oleh penghuni kompleks. Jadi rasanya bukan sebuah hal yang aneh apabila melihat para prajurit melakukan latihan di dalam perumahan. Akibatnya pada usia saya belum tamat Sekolah Dasar berbagai istilah militer pernah mampir di telinga. Ada istilah Mobud alias Mobilisasi Udara, Konsinyir, Rappeling, Apel, PDU, PDL, PDH, Terjun Statik, Kaporlap, Siaga 1, Free Fall, PH atau Perang Hutan, Suslapa dan masih banyak lagi. Jenis senjata yang pernah dikenal seperti Pistol FN 45, FN 46, senapan serbu seperti AK 47, M16 dan FNC buatan Belgia yang diuji coba sebelum “disulap” menjadi Senapan Serbu alias SS 1 ciptaan Pindad yang dipakai TNI saat ini.

Selama menjadi anak kolong tak jarang saya melihat Bendera di Markas Komando dan Mako Grup bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang. Itu tandanya ada prajurit yang gugur dalam medan tugas. Masa perjuangan merebut dan mempertahankan Timor Timur sekitar tahun 1976-1981 itu adalah masa dimana paling sering Bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang di Kesatrian Ahmad Yani.

Belum lagi saya lupakan masa dimana untuk mengukur tingkat kesiap siagaan pasukan Baret Merah maka diadakanlah sebuah Latihan yang biasa disebut dalam kemiliteran namanya Stealing. Pendadakan tanpa mengenal waktu baik pagi sore atau malam senatiasa dilakukan. Salah satu tujuannya adalah untuk mengukur berapa lama waktu kesiagaan yang dibutuhkan oleh prajurit Baret Merah andalan Bangsa jika akan diberangkatkan ke medan tugas. Kecepatan waktu berkumpul dengan Perlengkapan Perorangan Lapangan yang lengkap akan dijadikan tolok ukur manakala panggilan tugas dari Panglima diberikan.

Provoost dengan sepeda motor warna putih berkeliling di dalam kompleks Cijantung. Sirene dengan keras berbunyi mengiringi motor provoost yang melaju kencang. Lampu-lampu di padamkan menambah kesan suasana genting sedang berlangsung. Di tengah kegelapan melanda samar-samar terlihat para prajurit meninggalkan kediamannya dengan pakaian dinas lengkap. Tak ketinggalan ransel warna hijau dipunggung Tak berselang lama raungan sirene pun berhenti. Prajurit Kopassus sudah meninggalkan rumah menuju titik kumpul yang sudah ditetapkan sebelumnya. Itulah kehidupan prajurit andalan bangsa dari kaca mata saya sebagai salah seorang anak kolong Baret Merah. sumber : http://oomwil.wordpress.com

Susah juga kalau punya sifat sayang sama barang hingga sobekan kertas saja tidak dibuang-buang. Sobekan kertas dari Agenda milik almarhum papa rasanya dieman-eman sekali kalau di buang. 2 lembar kertas yang warnanya tidak putih lagi rupanya berisi syair lagu Baret Merah kebangaan Bangsa. Selain lagu Mars Komando ada juga Hymne Komando dengan latar belakang seorang Prajurit Komando yang sedang melompat dengan loreng darah mengalir, ransel lengkap dan Senjata M16 plus Bayonet diujung laras. Itu ada pada lembaran pertama. Lembar kedua tercetak Janji Prajurit Komando dimana pada bagian tengah terlihat Baret Merah dengan tulisan Kopassandha (nama lain Kopassus). Barangkali itu sebabnya yang membuat saya tidak berniat segera membuangnya. Ada juga dirumah sebuah gelas kecil dengan gambar yang sama masih tersedia disederetan gelas lainnya di lemari makan.

Khusus untuk 2 lembar kertas yang “kembali” ditemukan dari pada nanti hilang lebih baik saya ketik saja lagi di blog ini. Semoga bermanfaat yah siapa tahu anak cucu Opa dapat melanjutkan kiprahnya di lingkungan Pasukan Baret Merah. Mana tahu saya masih diberikan kesempatan untuk tinggal kembali di Kompleks Cijantung tempat saya melewati masa kanak-kanak hingga teruna atau bahkan di Kompleks Grup 1 Kopassus Serang Banten tempat saya menghabiskan masa remaja..

Berikut saya ketikan ulang ; Janji Prajurit Komando dilengkapi Lagu Mars Komando dan Hyme Komando :

Janji Prajurit Komando

1. Saya berjanji bahwa saya akan tetap setia dan menepati isi dan jiwa Sapta Marga

2. Saya berjanji bahwa saya akan memegang teguh dan tetap berpedoman pada Sumpah Prajurit

3. Saya berjanji bahwa saya akan menjunjung tinggi dan mempertahankan derajat nama, kehormatan dan jiwa kesatuan Para Komando pada setiap saat tempat dan keadaan bagaimanapun juga.

Janji Prajurit Komando diucapkan pada setiap Hari Ulang Tahun Kopassus diiringi dengan dentuman meriam yang menggelegar pengunjung yang hadir dalam upacara itu.

Lagu MARS KOMANDO

Komando Panji Buana
Abdi Nusa dan Bangsa
Berpedoman Satya Dharma
Tribuana Chandrasa
Pengawak tujuan kita
Membela keadilan
Siap Siaga Waspada
Majulah Maju

Bersumpah kesatuan kita
Baret Merah berjuang
Ksatria dan Perwira
Cita rasa dan karsa
Majulah maju serentak
Bhayangkari Negara
Prajurit Para Komando
Indonesia

Lagu HYMNE KOMANDO

Sikap Nan tegap waspada dan wibawa
Prajurit Komando berjiwa Satria
Bagi Nusa bangsa dan negara
Pantang kan menyerah di medan laga
Dibawah Dwi Warna Sang Panji
Diatas Persada negri kami
Demi Tuhan kami ini berjanji
Rela binasa membela bu pertiwi

Indonesia kami puja
Tanah Air kami cinta
Baret Merah jiwa hamba
Sudah janji kita semua
Lebih baik pulang nama daripada. Gagal di Medan Laga

Kiranya Tuhan Memberkati Kopassus dalam setiap perjuangannya membela kehormatan bangsa dan negara Republik Indonesia. NKRI harga mati !

sumber :http://oomwil.wordpress.com

Sepanjang periode 1970 hingga 1988 tak dapat dipungkiri di lingkungan Baret Merah hanya ada satu panggilan unik untuk seseorang. Panggilan khas untuk almarhum papa mulai dari Cijantung hingga Taman Serang Banten tak ada duanya. PAITUA itulah panggilan khas untuk almarhum papa. Beliau diberi julukan seperti itu karena ia memang paling tua di lingkungan Kopassandha pada saat itu. Kehadirannya di setiap kegiatan kesatuan sungguh terasa meskipun ia seorang rohaniawan. Sekali peristiwa ketika saya sedang di bonceng almarhum papa melewati barak bujangan di Cijantung, sekumpulan prajurit yang sedang beristirahat di teras barak serta merta berteriak HOSS untuk menyapa beliau. Dan ia pun membalas dengan HOSS. Sepintas saya tak mengerti namun setelah beberapa kali menjumpai hal serupa saya baru ngeh bila panggilan itu rupanya khas sapaan di olah raga bela diri Karate.

Sebagai bagian dari seorang Prajurit di pasukan Komando biarpun almarhum adalah Rohaniawan namun apapun kegiatan di kesatuan beliau mesti turut apalagi bila perintah telah diterimanya. Mulai dari kegiatan ORAUM atau Olah Raga Umum dan ORAMIL alias Olah Raga Militer hingga Latihan-Latihan Kemiliteran seperti di Ciampea Bogor, Gunung Karang Serang dan lokasi lain serta Terjun Penyegaran yang pernah dilakukan di Lapangan Gorda Banten mesti dijalani pula. Itu belum termasuk perintah untuk berangkat tugas operasi di Timor Timur di tahun 1975 bergabung dengan Team Susi atau Nanggala 2. Namun dalam kesempatan ini saya hanya fokus pada kegiatan Oraum.

Setiap pagi sehabis apel yang namanya lari pagi sudah merupakan makanan sehari-hari bagi setiap Prajurit Grup 1 Kopassandha (kini Kopassus). Itu sepertinya adalah kegiatan wajib yang mesti di lahap oleh para prajurit tanpa kecuali. Sewaktu masih di Cijantung prajurit Kopassandha akan berlari dari Markas Grup 1 menuju ke Lapangan Bola Caprina (kini Taman Bermain RA Fadilah) samping Bioskop Caprina (kini Graha Cijantung) berputar kembali ke Markas. Sesekali terlihat almarhum papa berlari paling depan sambil membawa sebuah tongkat panjang dengan lambang kesatuan diujungnya.

Sewaktu terjadi perpindahan pasukan dari Cijantung ke Serang Banten pada bulan Agustus 1981 kegiatan yang dilakukan di Cijantung tetap terus dilakukan di Markas Grup 1 Kopassus. Papa yang saat itu menjabat sebagai Perwira Rohani Protestan tak ketinggalan mengikuti setiap kegiatan di kesatuan. Olah raga lari terus berlangsung sebagai sebuah pembinaan fisik di lingkungan pasukan Baret Merah. Papa sebagai seorang Prajurit tak ketinggalan juga melaksanakan seperti apa yang dia lakukan di Cijantung. Hal yang menarik untuk diangkat kali ini adalah cara almarhum papa waktu ia melakukan olah raga Lari. Ketika itu papa adalah satu-satunya prajurit Kopassus yang Lari tanpa mengenakan Sepatu PDL alias nyeker. Beliau tak pernah menggunakan alas kaki setiap kali olah raga Lari dilaksanakan. Tak cukup hanya lari di dalam Kesatrian Gatot Subroto almarhum Papa kerap terlihat pula Lari hingga ke Kota Serang terutama pada tiap-tiap hari Olah Raga. Jarak antara Kompleks Kopassus Taman dengan Kota Serang sekitar 15-20 kilo meteran atau bila dengan kendaraan dibutuhkan waktu selama 15 menitan. Ia sering lari dengan titik awal dari Taman menuju ke Pasar Rawu Serang bahkan sesekali ke Karang Hantu. Satu hal yang perlu dicatat almarhum Papa Lari ditengah teriknya matahaari dengan telanjang dada dan tanpa alas kaki alias nyeker. Luar biasa !

Apa yang dilakukan oleh almarhum papa selama melakukan olah raga Lari tanpa sepatu itu seringkali memperoleh kelakaran dari teman-teman Perwira lainnya. Hingga satu saat sempat terlontar dari mereka “Paitua tidak usah dikasih Sepatu, nanti tidak dipakai malah dikirim ke Kampungnya” begitu ungkapnya.

Olah Raga Lari tanpa sepatu yang dilakukan almarhum papa berlangsung hingga ia pensiun pada tahun 1988. Apa yang telah diperlihatkan selama ia dinas di ketentaraan dengan status kependetaannya rupanya diikuti oleh kesatuan. Lari tanpa sepatu yang sebelumnya memperoleh olokan dari rekan perwira papa akhirnya sesekali diikuti pula oleh para Prajurit Kopassus yang masih aktif di tahun 1988-1989.

Entah hingga berapa lama program Lari tanpa Sepatu waktu itu dijalankan saya tak mengetahui secara persisnya. Pastinya aksi almarhum papa pernah ditiru. Bukan soal apakah tetap dipakai atau tidak namun itu lebih dari cukup untuk membanggakan kami yang menjadi anak-cucunya. Boleh jadi ialah pelopor Lari Tanpa Sepatu di Kopassus pada masanya.

sumber : http://oomwil.wordpress.com

Kesatuan Baret Merah yang dibentuk pada 16 April 1952 sudah kesekian kalinya berganti-ganti nama. Diantaranya nama legendaris RPKAD atau Resimen Para Komando Angkatan Darat hingga Kopassandha alias Komando Pasukan Sandhi Yudha. Almarhum papa saya baru bertugas di Baret Merah sewaktu namanya masih Puspassus AD atau Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat sebelum berganti menjadi Kopassandha.

Pada periode 1980an, guna memenuhi hakekat ancaman dan gangguan serta tantangan yang ada, kesatuan ini memiliki Grup Parako atau Para Komando dan Grup Sandi Yudha alias Sandha. Dalam sebuah Grup Parako saat itu bermaterikan 3 (tiga) Detasemen Tempur atau Denpur. 1 (satu) Denpur terdiri dari 3 Kompi dan 1 Kompi terdiri dari 3 Peleton (Denpur 12~ Kompi 111, Kompi 112 dan Kompi 113). Sedangkan di Grup Sandha atau Sandhi Yudha terdiri dari Karsa Yudha dibawahnya menggunakan istilah Prayudha. Saat ini di Kopassus menggunakan istilah Batalyon, contoh Grup 1 Batalyon 11,12 atau Grup 2 berarti Batalyon 21,22 dan begitu seterusnya kecuali Satuan Penanggulangan Teror atau Gultor. Meskipun sama-sama memiliki kualifikasi Komando namun tugas Grup Parako dan Grup Sandha berbeda satu dengan lainnya. Satu hal yang pasti seorang anggota Baret Merah mesti melewati masa tugasnya beberapa tahun berikut memiliki riwayat penugasan di Grup Parako lebih dahulu baru kemudian anggota tersebut dapat bergabung di Grup Sandha.

Guna mengetahui secara sederhana perbedaan antara Grup Parako dengan Grup Sandha, kita dapat mengambil contoh saat ”infiltrasi” yang dilakukan pasukan ini ke Timor Portugis di tahun 1975. Sebelum digelar Operasi Gabungan besar-besaran dari darat laut dan udara untuk merebut Kota Dili, Minggu 7 Desember 1975, Kopassandha telah mengirimkan setidaknya 3 Team Khusus yang dipersiapkan dalam rangka perebutan Dili. Kesuksesan yang diperoleh Team Susi Umi dan Tuti tak diikuti dengan mulus oleh operasi selanjutnya. Menurut almarhum Jenderal Purnawirawan Benny Moerdani dalam bukunya, operasi gabungan ini masih memiliki banyak kelemahan. Hal itu dikarenakan oleh ketiadaan pengalaman dari TNI untuk melaksanakan Operasi Gabungan sebelumnya. Konsekuensi ketidaksiapan pasukan mengakibatkan banyaknya pasukan TNI yang gugur termasuk prajurit dengan pangkat Mayor dan Kapten. Operasi gabungan Lintas Udara dengan inti kekuatan dari Grup 1 Kopassandha dan Batalyon 507 Kostrad Jawa Timur ini memakan korban cukup besar

Sifat dari operasi Sandha yang dilakukan itu sendiri juga memiliki kekhususan dengan tingkat kerahasiaan yang tinggi dan tentunya sasaran yang diberikan memiliki dampak buat operasi selanjutnya.

Berbicara mengenai Operasi Seroja di Timor Portugis, seperti diketik diatas bahwa jauh sebelum operasi itu dimulai, Kopassandha ketika itu setidaknya telah menurunkan 3 Team dari Grup Sandha yakni : Team Susi Team Umi dan Team Tuti. Team Susi yang dikomandani oleh Kapten Yunus Yosfiah ini berganggotakan 100 orang. Mereka mayoritas bertugas di Grup 4 Kopassandha. Para prajurit ini tergabung dalam 4 Prayudha dengan masing-masing 20 anggota dipimpin seorang perwira belum termasuk anggota lainnya pada tingkat Mako. Ke-100 orang anggota Kopassandha ini mulai mempersiapkan diri sekitar Oktober 1974. Team Susi yang dalam masa persiapan masuk pada Karsa Yudha “Siaga“ akhirnya diberangkatkan ke daerah operasi mulai 29 April 1975 hingga 9 Nopember 1975. Karsa Yudha yang berangkat tugas operasi Pra Seroja ini tergabung dalam gugus tugas Nanggala 2 dimana sebelumnya selain latihan militer diberikan juga buat mereka pelajaran Bahasa dan Budaya Timor Portugis.

Namanya juga pasukan Sandha, ke-100 anggota Nanggala 2 ini masing-masing memiliki nama samaran sendiri-sendiri. Ambil contoh almarhum papa saya tempo itu diberikan nama Yosep Fernandez atau biasa ditulis Ama Yosep pada tiap surat yang dikirim papa ke mama di Cijantung. Dalam tugas penyamaran beliau “mengaku“ bekerja sebagai Mandor Jalan sehingga banyak sekali catatan berupa tulisan tangan yang ditinggalkan hingga kini masih tersimpan.

Team Nanggala 2 ini sepanjang penugasan di Timor Portugis dikenal juga sebagai The Blue Jeans Soldiers. Alasan kenapa mereka dijuluki seperti itu tak lain dan tak bukan disebabkan oleh pakaian yang dikenakan prajurit Komando ini semua dari bahan blue jins. Tak satupun anggota Team Susi ini menggunakan atribut pasukan Baret Merah. Selama di medan perang mereka menggunakan pakaian sipil dengan seledang kain Timor menutupi tubuhnya. Kebanyakan dari prajurit itu juga mengenakan Topi yang memiliki kekhasan Timor.

Setiap Prajurit Kopassandha yang tergabung dalam Team Susi pada waktu itu ”sengaja” menggunakan senjata non organik TNI yaitu AK 47. Dalam berbagai pertempuran sepanjang tugas operasi di Timor Portugis selain AK 47 anggota Nanggola 2 juga menggunakan RL atau Rocket Launcher. Penggunaan AK 47 adalah untuk menyamarkan tugas mereka selaku Sukarelawan dalam rangka membantu Partai Apodeti, UDT, KOTA dan Partai Trabalista yang menginginkan rakyat Timor Portugis bergabung dengan Indonesia. Keempat partai pendukung integrasi Timor Timur dengan Indonesia kemudian membuat sebuah aksi disebut Deklarasi Balibo untuk menandingi pernyataan kemerdekaan yang secara sepihak dicetuskan oleh Fretilin.

Keinginan Rakyat Timor Portugis untuk bergabung dengan Indonesia dilandasi oleh kesengsaraan dan kekejaman penjajahan Portugis melalui Fretilin (Frente Revolucionaria de Timor Lesta Independence) yang saat itu sedang berkuasa.

Para Prajurit TNI dari kesatuan Baret Merah sewaktu melakukan gerakan di daerah operasi memiliki tugas untuk mempertahankan kantong-kantong gerilya yang masih dikuasai Apodeti sehingga secara politik Apodeti masih memiliki suara dalam forum internasional di PBB. Dan perjuangan para sukarelawan pro integrasi menjadi bukti kuat bagi Timor Portugis untuk bergabung dengan Indonesia melalui Deklarasi Balibo yang telah disepakati oleh 4 tokoh utama Partai Apodeti, UDT, Kota dan Trabalista.

The Blue Jeans Soldiers berintikan sepasukan prajurit Baret Merah setidaknya pernah membantu rakyat Timor Timur pada masanya. Apapun dan bagaimanapun kini situasinya The Blue Jeans Soldiers namamu senatiasa tercetak dengan tinta emas. Peran mereka senantiasa melekat dihati. Kaulah pahlawan Seroja sesungguhnya.

sumber :http://oomwil.wordpress.com

Semir dan Braso. Diantara kita apakah ada yang tak mengetahui barang apa itu ? Apa kegunaan dan bagaimana cara pakainya ? Semoga saja tidak !.

Semir dan Braso adalah 2 buah benda yang cukup akrab bagi kehidupan keprajuritan terutama pada masa lalu. Di Cijantung setiap malam tak ketinggalan salah seorang anak-anak almarhum papa terutama abang-abang saya yang telah duduk dibangku SMP atau SMA pasti diserahi tugas untuk menyemir sepatu dan kopel riem miliknya. Almarhum papa akan mensupervisi kegiatan penyemiran yang dilakukan oleh anak-anaknya. Sebelumnya beliau sudah mengajarkan terlebih dahulu bagaimana cara menyemir yang baik. Ia memberikan contoh mulai dari cara yang sederhana hingga menggunakan lilin agar memperoleh hasil yang sempurna. Alat bantu penyemiran seperti Sikat Sepatu, Sikat Gigi, Kain Gombal, Korek Api, Koran Bekas dan Lilin. Semua tersimpan dengan semir yang bergambar seekor binatang khas benua Australia. Peralatan itu rapi tersedia dalam sebuah kotak besi warna hijau dengan tulisan warna kuning merupakan bekas tempat menyimpan peluru. Jika belum bisa berkaca di sepatu maka jangan heran kalau akan diminta mengulangi lagi. Pokoknya mesti mengkilap. Lalat pun kalau hinggap bila perlu sampai tergelincir. Selain menyemir sepatu dan kopel riem, perlengkapan almarhum papa yang mesti disiapkan adalah Emblem pada Baret, Tanda Pangkat, dan Wing Para yang akan digunakan bersama pakaian dinasnya. Perlengkapan yang disebut belakangan karena bahannya dari Kuningan maka tugas anak-anak Almarhum papa adalah mengkilapkan benda-benda itu dengan sebuah botol kaleng berisi cairan pengkilap merk Braso. Mulai dari kakak nomor 2 sampai ke saya termasuk beberapa ponakan yang tinggal di rumah tak ada satupun yang tidak pernah merasakan menyemir sepatu dan kopel riem serta perlengkapan dinas milik almarhum papa.

Sambil ditemani siaran televisi dari satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu, penyemiran dan pengkilapan semua perlengkapan dinas almarhum papa dilakukan sesudah santap makan malam.

Ada satu hal fenomenal yang pernah dilakukan almarhum Papa saya yaitu menyemir Ban Mobil. Pada waktu itu hanya seseorang dengan jabatan Komandan yang Ban Mobilnya disemir oleh anak buahnya. Itupun hanya Ban Serepnya saja. Tidak demikian dengan almarhum Papa, ia pun dengan senang hati menyemir kelima Ban mobil Utility, kendaraan inventaris yang diberikan kepadanya (Mobil ini merupakan peninggalan Perang Vietnam dengan stir di kiri). Meski menghabiskan semir hitam cukup banyak setiap bulannya hanya untuk Ban Mobil ia tetap melakukannya, prinsipnya mobil harus bersih ketika berada di garasi apalagi bila hendak bepergian. Senantiasa menginginkan kelima ban bagian luarnya disemir. Alhasil tak hanya Ban serep keempat Ban lain juga disemir.

Suatu hari pernah seorang Komandan menanyakan kepada ajudannya saat ia melintas di depan Mobil Utility yang digunakan almarhum Papa. Beliau menanyakan siapa pemilik kendaraan itu sebab diantara mobil sejenis hanya ada satu mobil dengan Ban Serep Mengkilap menyala yang menyamai kilapan mobil Komandan. Tak sulit memang membedakan mana mobil utility almarhum papa dengan utility yang digunakan perwira lainnya.

Tugas menyemir sepatu dan mengkilapkan perlengkapan dinas juga membuat saya setidaknya mengetahui jenis perlengkapan apa saja yang digunakan tentara. Saya jadi mengetahui apa itu PDL, PDH, PDU. PDL berarti Pakaian Dinas Lapangan – sepatunya juga dikenal dengan nama PDL. PDH artinya Pakaian Dinas Harian berikut sepatunya dan tentu saja PDU kependekan dari Pakaian Dinas Upacara. Penggunaan ketiganya tentu disesuaikan dengan peruntukkannya belum lagi ditambah Pakaian Dinas Loreng Darah Mengalir Khas RPKAD atau Kopassandha (kini Kopassus) sejak dahulu kala. Saya juga mengenal istilah lain seperti Ransum T1 atau T2, Bivak, Konsinyir, Uang LP, Beras Porad, Werving, Wearpack, Ponco, Velbed dan masih banyak lagi istilah lainnya.

Melalui Semir dan Braso saya telah memperoleh pelajaran sederhana. Saya menjadi tahu apa ragam Pakaian Dinas Tentara. Hari apa saja mesti pakai PDL Hijau atau PDL Loreng. Kapan harus mengenakan PDU dan sebagainya. Pelajaran berharga diperoleh melalui roster hari pemakaian pakaian dinas. Terlihat bagaimana menata satu keteraturan dalam hidup pada sebuah komunitas.

Seiring dengan perkembangan jaman semua perlengkapan yang terbuat dari kuningan telah berganti bahan pembuatnya sehingga tidak lagi membutuhkan pembrasoan.

Terima Kasih Papa engkau sudah mengajarkan sesuatu yang tak setiap anak akan memperolehnya.

sumber :http://oomwil.wordpress.com

2394

1

32 IMG_2683

26

9 7

IMG_2843 _MG_5833

 

 

 

 

 

IMG_2385

_MG_5943 _MG_5922      _MG_5926

_MG_5947

_MG_5894_MG_5901 _MG_5889_MG_5948_MG_5941_MG_5897

IMG_0003

Rapat Teknis Panitia Gabungan DPP, DPD DKI dan DPC Depok  untuk persiapan pengamanan dan mapping area pelaksanaan HUT X

IMG_0379IMG_0389IMG_0391